Bandung – Aksi tidur dan tinggal di trotoar depan Wyata Guna Bandung ternyata dihadiri para driver ojek online (ojol). Apa yang mereka lakukan?
Kehadiran puluhan driver ojol yang tergabung dalam komunitas Relawan Bandung ini adalah untuk membantu para peserta aksi. Tapi, tujuannya adalah kemanusiaan. Mereka tak mau masuk dalam ranah konflik dan keberpihakan di antara dua pihak yang berselisih.
Mereka terlihat sibuk membantu membagikan makanan, membantu mengatur arus lalu lintas, hingga menuntun siswa saat butuh bantuan.
Mereka sudah ada di lokasi secara bergiliran sejak Selasa (14/1/2020) hingga hari ini, Kamis (16/1/2020). Mereka bahkan ada yang turut menginap di trotoar.
“Kita di sini enggak membela pihak Kementerian Sosial atau teman-teman tunanetra ini. Kita di sini atas nama pure kemanusiaan,” kata Ketua Relawan Bandung Asep Sahroni.
Aksi membantu dan tinggal bersama siswa Wyata Guna di trotoar itu menurutnya dilakukan secara spontan. Bermula dari adanya anggota yang melintas ke lokasi dan melihat aksi para siswa Wyata Guna, informasi ini kemudian menyebar di kalangan sesama Relawan Bandung.
Tanpa komando, satu per satu anggota komunitas ini berdatangan ke lokasi. Mereka membagi tugas satu sama lain untuk memantu para siswa. Mereka juga membagi waktu agar driver bisa bergiliran tinggal di lokasi.
Yang tak kalah menarik, para driver yang ada di lokasi rela tak beroperasi mengantarkan penumpang atau pesanan. Mereka semua mematikan aplikasi ojolnya agar tak ada orderan yang masuk melalui gawainya.
“Mereka benar-benar terbuka hatinya untuk kemanusiaan. Semua aplikasinya dimatikan (agar bisa totalitas membantu). Itu inisiatif sendiri, enggak ada instruksi,” tutur Asron.
Dian Wardiana, salah seorang peserta aksi tidur di trotoar, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran para driver ojol dari Relawan Bandung tersebut. Meski tak kenal dan tak diminta, mereka begitu sigap memberi bantuan saat dibutuhkan.
“Mereka sangat membantu karena dari mobilitas misalnya kita juga perlu bantuan. Kita senang sekali dengan bantuan mereka, itu hal yang kami perlukan,” ucap Dian.
Seperti diketahui, 30-an siswa Wyata Guna memilih tinggal di di trotoar depan Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRPDSN) Wyata Guna Bandung sejak Selasa (14/1/2020) malam hingga kini.
Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes agar Wyata Guna yang kini sudah berstatus BRPDSN diubah kembali menjadi Panti Sosial Bina Netra (PSBN).
Sebab, setelah jadi BRPDSN, kini mereka harus keluar dari asrama Wyata Guna. Itu karena ada pembatasan, menghuni asrama hanya bisa maksimal enam bulan.
Sementara mereka ingin bertahan di sana karena masuk ke Wyata Guna saat berstatus PSBN. Jika berstatus PSBN, mereka bisa tinggal hingga belasan tahun sampai pendidikannya selesai. (bud)
BANDUNG - Meski jumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 4,5 persen dari jumlah penduduk…
BANDUNG : Sebagai tindak lanjut acara Abah Anies Ngajabarkeun pada MInggu 28 Januari lalu, simpul…
BANDUNG - Setelah melalui proses dan perjuangan yang cukup panjang, Vic Fadlin akhirnya berhasil dinobatkan…
BANDUNG - Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan bersafari politik pada Minggu 27 Januari 2023 di…
BANDUNG - Ribuan masyarakat Jabar berkumpul di lapangan Tegalega, Kota Bandung, Minggu 28 Januari 2024…
BANDUNG - Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat melakukan konsolidasi pemenangan pada Pemilu 2024 di…