Ilustrasi (foto: net)
Di tengah pandemi COVID-19, kekurangan gizi menjadi masalah serius bagi masyarakat Indonesia. Stunting dan anemia merupakan penyakit yang sering muncul akibat kekurangan zat gizi. Di Indonesia, penderita penyakit ini sudah tinggi bahkan sebelum masa pandemi. Menurut World Health Organization (WHO) 2020, diperkirakan jumlah penderita stunting akan naik sebesar 15 persen selama masa pandemi COVID-19.
Masyarakat Indonesia sebagian besar masih belum memahami terkait status gizi seseorang. Hal ini membuat pola perilaku konsumsi makanan sehat menjadi sulit. Ditambah lagi Indonesia juga termasuk dalam negara yang masih belum bisa mengakses makanan yang sehat. Selain itu menu makanan orang Indonesia juga kurang beragam. Hal ini menyebabkan permasalahan stunting di Indonesia masih di atas 30 persen. Jauh di atas batas wajar yang ditetapkan oleh WHO yaitu 20 persen.
Merespon permasalahan ini, IPB University bersama dengan Pergizi Pangan Indonesia membuat sebuah platform online cek status gizi seseorang.? Penggagas inovasi ini adalah Prof Dr Hardinsyah, Guru Besar IPB University dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) bersama tim Linisehat. Inovasi ini dibuat agar masyarakat teredukasi terkait status gizi.
?Kami sangat bangga dengan Prof Hardinsyah yang selalu produktif dengan perangkatnya. Selamat untuk Prof Hardinsyah dan tim atas keberhasilanya dalam membuat perangkat lunak penilaian status gizi. Semoga semakin bermanfaat secara lebih luas lagi,? ungkap Prof Dr Arif Satria, Rektor IPB University dalam kegiatan Launching Aplikasi Cek Status Gizi Online, (3/2).
Prof Arif menambahkan bahwa aplikasi ini merupakan bagian dari edukasi gizi untuk masyarakat. Edukasi terkait kesehatan dan gizi bagi masyarakat luas sangat penting agar Indonesia menjadi bangsa yang sehat. Hal ini akan mempengaruhi kesejahteraan dan produktivitas masyarakatnya. Ia mengajak masyarakat untuk ikut memanfaatkan aplikasi ini.
Menurutnya IPB University akan selalu mendukung program pemerintah terkait penurunan angka stunting. Gerakan bersama antar perguruan tinggi dan pemerintah akan efektif di akar rumput. Selain itu perlu juga inovasi berupa pendampingan oleh perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Dikatakannya, pendampingan oleh mahasiswa bisa dihitung sebagai Satuan Kredit Semester (SKS) seperti kuliah.
Sementara Prof Hardinsyah mengungkapkan bahwa aplikasi ini merupakan salah satu langkah kecil perguruan tinggi dan ahli gizi dalam upaya penurunan angka stunting. Kolaborasi antar perguruan tinggi diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini. Selain itu juga dibutuhkan kerjasama yang baik antar semua pihak baik di pusat dan daerah.
?Saya optimis bahwa angka stunting ini bisa diturunkan saat semua pihak mau bergerak bersama. Mahasiswa yang sudah terintegrasi dengan program Kampus Merdeka juga bisa diturunkan untuk mendampingi masyarakat. Kuncinya kita harus punya data realtime. Aplikasi ini merupakan salah satu langkah awal saja untuk melakukan gerakan kolaborasi,? ungkap Prof Hardinsyah.
BANDUNG - Meski jumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 4,5 persen dari jumlah penduduk…
BANDUNG : Sebagai tindak lanjut acara Abah Anies Ngajabarkeun pada MInggu 28 Januari lalu, simpul…
BANDUNG - Setelah melalui proses dan perjuangan yang cukup panjang, Vic Fadlin akhirnya berhasil dinobatkan…
BANDUNG - Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan bersafari politik pada Minggu 27 Januari 2023 di…
BANDUNG - Ribuan masyarakat Jabar berkumpul di lapangan Tegalega, Kota Bandung, Minggu 28 Januari 2024…
BANDUNG - Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat melakukan konsolidasi pemenangan pada Pemilu 2024 di…