Ketum PSSI Mochamad Iriawan. (dok. PSSI)
Tidak adanya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 membuat para pesepakbola Indonesia kehilangan mata pencaharian.
Meski terdapat regulasi setiap tim wajib membayar gaji sebesar 25 persen, namun hal tersebut tidak menjadi jaminan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Belum lagi kondisi keuangan klub yang tidak menentu bahkan beberapa diantaranya bangkrut lantaran tidak memiliki pemasukan dana sehingga kewajiban tersebut tidak terpenuhi.
Situasi ini memaksa para pemain harus ‘turun gunung’ dan mengikuti turnamen antar kampung (tarkam) demi mengais sesuap nasi.
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengaku tidak bisa melakukan pelarangan dengan keputusan para pemain.
Dia hanya mengimbau para pemain bisa menjaga kondisi agar tidak cedera dan selalu mengedepankan protokol kesehatan.
“Kami hanya dapat mengimbau. Mereka kan memang butuh pekerjaan, butuh makamn,” katanya.
Selain itu akibat pandemi COVID-19, banyak pesepakbola yang harus banting stir menjadi tukang ojek, satpam untuk mendapatkan uang.
BANDUNG - Meski jumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 4,5 persen dari jumlah penduduk…
BANDUNG : Sebagai tindak lanjut acara Abah Anies Ngajabarkeun pada MInggu 28 Januari lalu, simpul…
BANDUNG - Setelah melalui proses dan perjuangan yang cukup panjang, Vic Fadlin akhirnya berhasil dinobatkan…
BANDUNG - Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan bersafari politik pada Minggu 27 Januari 2023 di…
BANDUNG - Ribuan masyarakat Jabar berkumpul di lapangan Tegalega, Kota Bandung, Minggu 28 Januari 2024…
BANDUNG - Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat melakukan konsolidasi pemenangan pada Pemilu 2024 di…