Categories: KABAR PERSIB

Menakar Polemik #ReneOut Usai Persib Kembali ke Trek

Sebagian Bobotoh beberapa waktu lalu bereaksi saat Persib menuai rentetan hasil imbang. Unjuk rasa, petisi, hingga tagar #ReneOut digaungkan.

Manajemen pun sempat ‘panik’ hingga akhirnya mengumumkan sikap. Manajemen menyebut hasil yang diraih Persib, terutama saat seri pertama, jadi sorotan dan bahan evaluasi.

Namun, perlahan Persib bangkit di seri kedua Liga 1 2021/2022. ‘Maung Bandung’ kembali ke trek yang seharusnya. Bahkan, dua laga dilalui dengan kemenangan, yaitu saat melawan Bhayangkara FC dan PS Sleman (PSS).

Tagar #ReneOut sendiri mulai mereda usai kemenangan kembali diraih Persib. Namun, tagar dan tuntutan ini ibarat bola salju yang bisa kapan saja menggelinding lagi saat tim kembali menuai hasil negatif.

Mantan Direktur Persib Bandung Bermarbat (PBB) M. Farhan melihat fenomena ini dari sudut pandang lebih luas. Dia menyebut petisi dan tekanan dari Bobotoh harus dipandang sebagai bagian dari dinamika dan proses demokrasi antara klub dan pendukungnya.

Di saat yang sama, dia meyakini manajemen Persib juga tak akan tinggal diam jika tim terpuruk di kompetisi. Namun, terlalu cepat menilai kinerja pelatih Robert Alberts di tengah sedikit laga yang baru dijalani.

Farhan sendiri memandang penggantian pelatih bukan langkah tepat. Sebaliknya, mempertahankan Robert Alberts jadi langkah bijak karena tim tidak benar-benar terpuruk meski sempat sulit meraih kemenangan.

“Manajemen Persib selalu punya ukuran kuantitatif yang tegas. Pada saat bersamaan, saya percaya bahwa penggantian pelatih bukan solusi terbaik. Polemik petisi #reneout adalah hak kebebasan berekspresi bobotoh yang patut dihargai,”

Dia berkaca pada perjalanan Djadjang ‘Djanur’ Nurdjaman saat jadi pelatih Persib. Djanur masuk di musim 2012-2013. Perjalanan Djanur pun tak mulus. Namun, akhirnya kebebasan dan keleluasaan yang diberikan kepada Djanur dibalas tuntas dengan raihan gelar juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015.

Hal serupa sebaiknya diberikan pada Robert Alberts. Manajemen perlu mendukung penuh langkah sang pelatih untuk membentuk tim tangguh agar bisa meraih juara. Sebab, Bobotoh hanya menginginkan gelar juara karena Persib punya segalanya untuk meraihnya.

“Persib perlu menang dan juara, hanya itu yang ada di benak dan hati semua Bobotoh. Kemampuan dan keahlian manajerial dan sport science semua sudah lengkap dimiliki Persib,” jelasnya.

Di sisi lain, suporter tak punya fasilitas yang bisa menunjang Persib agar bisa tampil digdaya. Namun, Bobotoh punya dukungan dan hati besar sebagai penyokong tim di belakang layar.

“Kita sebagai supporter tidak memiliki kemampuan selengkap tim Persib. Tapi, hati (Bobotoh) 100 persen untuk Persib. Maka, hasil yang ditunggu harus juara,” ungkap anggota DPR RI Fraksi NasDem itu.

Di saat bersamaan, dia berharap Bobotoh menciptakan support system bagi manajemen dan tim untuk mengawal langkah Persib. Skuad Persib pun harus merespons segala tekanan yang ada dan memaknainya secara positif.

Selain itu, dia berharap suara yang menginginkan Robert Alberts didepak Persib adalah murni sebuah aspirasi. Tak ada niatan lain di balik tagar dan tekanan itu. Bahkan, jangan sampai ada pihak lain yang mengungganginya.

“Maka (tekanan yang ada) harus menjadi pecut bagi tim Persib untuk membuktikan yang terbaik. Polemik #ReneOut ini juga, harus dijaga kemurniannya sebagai suara bobotoh,” katanya.

Semua pihak yang mencintai Persib pun harus menjaga situasi dan saling dewasa, terutama manajemen dan Bobotoh. Sehingga, kedua pihak bisa sama-sama saling mengerti dan tak melampaui batas.

“Kita jaga bersama dari penunggangan kepentingan yang ada di luar Persib sebagai klub sepak bola kebanggaan kita semua. Suporter dan klub tidak mungkin lepas, ada keterkaitan yang tidak terpisahkan. Maka, proses pendewasan harus berjalan di kedua belah pihak, baik klubnya maupun suporternya,” tegasnya.

Dia pun secara khusus memberi penekanan agar suporter memberi tekanan secara wajar pada tim yang didukung. Bahkan, bentuk kekecewaan jangan disampaikan dengan cara serampangan, apalagi dengan tindakan negatif.

“Suporter harus bisa memberikan dukungan terukur yang justru akan meningkatkan prestasi klub. Jangan membabi buta terhadap satu sama lain. Malah bisa saling merugikan,” pungkas Farhan. (bud)

Budiana

Recent Posts

Tokoh Tionghoa Jabar Minta Warga Keturunan Tionghoa Tidak Golput

BANDUNG - Meski jumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 4,5 persen dari jumlah penduduk…

2 tahun ago

Seniman dan Budayawan Bandung Gelar Diskusi Kebudayaan “Ngajabarkeun Abah Anies”

BANDUNG : Sebagai tindak lanjut acara Abah Anies Ngajabarkeun pada MInggu 28 Januari lalu, simpul…

2 tahun ago

Mengenal Sosok Vic Fadlin, Pemuda Kota Bandung yang Raih Gelar Mister Grand Tourism Indonesia 2024

BANDUNG - Setelah melalui proses dan perjuangan yang cukup panjang, Vic Fadlin akhirnya berhasil dinobatkan…

2 tahun ago

Safari Politik Capres Anies ke Jawa Barat Naikan Elektoral Positif

BANDUNG - Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan bersafari politik pada Minggu 27 Januari 2023 di…

2 tahun ago

Anies Minta Rakyat Riang Gembira di Pemilu 2024

BANDUNG - Ribuan masyarakat Jabar berkumpul di lapangan Tegalega, Kota Bandung, Minggu 28 Januari 2024…

2 tahun ago

Golkar Rapat Konsolidasi di Bandung Dihadiri 3 Ribu Saksi TPS

BANDUNG - Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat melakukan konsolidasi pemenangan pada Pemilu 2024 di…

2 tahun ago