Categories: SERBA SERBI

Defisit Ekologi Indonesia Capai 42 Persen

Praktik pembangunan ekonomi di Indonesia seringkali tidak selaras dengan kelestarian sumberdaya alam. Hal ini akan menyebabkan terjadinya kerusakan ekologi.? Berdasar data Global Footprint Network tahun 2020, Indonesia mengalami defisit ekologi sebanyak 42 persen. Artinya konsumsi terhadap sumberdaya lebih tinggi daripada yang saat ini tersedia. Hal ini akan menyebabkan daya dukung alam terus berkurang.?

Kebijakan pembangunan ekonomi di Indonesia masih belum memperhatikan modal alam secara serius. Guru Besar IPB University dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Prof Dr Akhmad Fauzi menyebutkan index modal alam Indonesia masih rendah yaitu di urutan 86. Padahal negara tropis umumnya ada di peringkat sepuluh besar urutan index modal alam. Terdapat kerusakan yang cukup masif pada alam di Indonesia.?

?Kerusakan alam ini misalnya disebabkan oleh alih fungsi lahan. Laju pencemaran lingkungan khususnya air juga tinggi. Selain itu keberagaman alam juga sudah semakin berkurang. Hal ini membuat perekonomian nasional kita melemah. Mengabaikan modal alam berakibat memperbesar angka ketimpangan ekonomi,? ungkap Prof Akhmad saat menjadi narasumber diskusi yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat, belum lama ini.

Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kelestarian lingkungan. Selain itu, kearifan lokal yang ada di masyarakat juga harus diperhatikan dengan baik. Biasanya pembangunan yang menyertakan kearifan lokal masyarakat akan selaras dengan kelestarian lingkungan. Sehingga penting bagi Indonesia untuk melakukan upaya dalam memperbaiki paradigma pembangunan ke arah yang lebih berkelanjutan.

Lebih lanjut Prof Akhmad menegaskan perlu reorientasi pengelolaan modal dalam pembangunan wilayah di Indonesia. Strategi pertama adalah dengan mengembangkan faktor untuk meningkatkan kompleksitas produktivitas sumberdaya untuk meningkatkan nilai tambah sebuah produk. Selanjutnya adalah memanfaatkan sumberdaya dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat.?

?Ekstraksi sumberdaya alam sering menimbulkan fenomena hysterisis. Yaitu dampaknya yang berlangsung lama meski penyebabnya sudah diatasi. Misalnya dampak akibat penggundulan hutan. Strateginya adalah menggunakan pengetahuan lama untuk melakukan sebuah terobosan baru. Membangkitkan ekonomi daerah lewat sumberdaya lokal, membangkitkan perekonomian daerah,? tambah Prof. Akhmad.

Terakhir, harga sumberdaya alam di pasar tidak mencerminkan kondisi sebenarnya yang di alam. Penting untuk memahami biaya yang harus dibayar oleh generasi selanjutnya akibat kerusakan dari alam. Ekstraksi sumberdaya alam bukan hanya untuk satu generasi saja. Tata kelola modal alam harus terus diperbaiki untuk kesejahteraan generasi saat ini dan mendatang.

Dery F.G

Recent Posts

Tokoh Tionghoa Jabar Minta Warga Keturunan Tionghoa Tidak Golput

BANDUNG - Meski jumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia hanya 4,5 persen dari jumlah penduduk…

2 tahun ago

Seniman dan Budayawan Bandung Gelar Diskusi Kebudayaan “Ngajabarkeun Abah Anies”

BANDUNG : Sebagai tindak lanjut acara Abah Anies Ngajabarkeun pada MInggu 28 Januari lalu, simpul…

2 tahun ago

Mengenal Sosok Vic Fadlin, Pemuda Kota Bandung yang Raih Gelar Mister Grand Tourism Indonesia 2024

BANDUNG - Setelah melalui proses dan perjuangan yang cukup panjang, Vic Fadlin akhirnya berhasil dinobatkan…

2 tahun ago

Safari Politik Capres Anies ke Jawa Barat Naikan Elektoral Positif

BANDUNG - Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan bersafari politik pada Minggu 27 Januari 2023 di…

2 tahun ago

Anies Minta Rakyat Riang Gembira di Pemilu 2024

BANDUNG - Ribuan masyarakat Jabar berkumpul di lapangan Tegalega, Kota Bandung, Minggu 28 Januari 2024…

2 tahun ago

Golkar Rapat Konsolidasi di Bandung Dihadiri 3 Ribu Saksi TPS

BANDUNG - Partai Golongan Karya (Golkar) Jawa Barat melakukan konsolidasi pemenangan pada Pemilu 2024 di…

2 tahun ago