Indonesia sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi kedua di dunia merupakan anugerah dan modal dasar pembangunan berkelanjutan yang perlu selalu dijaga kelestariannya. Sementara, kerusakan lingkungan seperti kebakaran hutan, eksploitasi sumberdaya alam (SDA) secara berlebihan merupakan tantangan dalam menjaga biodiversitas khususnya jenis-jenis satwa liar yang kini statusnya diambang kepunahan.?
Sayangnya, data mengenai biodiversitas satwa liar di Indonesia masih terbatas dan minim. Hal ini tentunya akan mempersulit upaya konservasi satwa liar di hutan nusantara dan berbagai upaya lain dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaataan salah satu SDA ini di masa mendatang.?
Melihat fenomena ini, Dr Dede Aulia Rahman, peneliti konservasi biodiversitas hutan dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University mengatakan, “Kita tahu bahwa hutan hujan tropis Indonesia itu susah dijangkau. Metode survei secara tradisional memang agak sulit, ditambah satwa liar memiliki sifat sulit dipahami dan samar. Itu yang menyebabkan data-data ekologi di Indonesia itu sulit dan menjadi sangat terbatas.”
Ia menyebut, dibutuhkan teknologi supaya dapat menjawab tantangan terkait pengumpulan data dan potensi satwa liar di Indonesia. Menurutnya, pendataan biodiversitas satwa liar Indonesia masih belum terpublikasi sempurna. Bahkan, secara statistik, hampir sebagian besar tulisan mengenai SDA Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal bereputasi justru berasal dari peneliti atau penulis luar negeri.?
Hal ini mendorong Dr Dede melakukan optimalisasi pendataan dengan menggunakan teknologi drone thermal dan kamera tangkap untuk melacak satwa liar di hutan. Dirinya mengklaim, penggunaan alat ini dapat mempermudah pendataan satwa liar yang sulit bahkan berbahaya untuk dipantau seperti satwa yang buas.?
Melalui dukungan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia, di bawah skema Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT), dalam studi terbarunya, Dr Dede melakukan pendataan serta monitoring satwaliar dengan memanfaatkan teknologi kamera tangkap (camera trap) dan drone thermal.
Camera trap berfungsi seperti CCTV yang dilengkapi sensor gerak sehingga dapat merekam dan membedakan satwa yang satu dengan satwa lainnya atau membedakan antar individu satwa melalui pengenalan karakteristik maupun bentuk tubuh atau pola tertentu yang terdapat pada setiap jenis satwa.?
“Contohnya, pada macan tutul jawa yang merupakan satwa endemik Indonesia, kita bisa membedakan setiap individunya berdasarkan pola totolnya atau rosette. Jadi semacam sidik jari pada manusia dan untuk orangutan dapat dibedakan setiap individunya berdasarkan tampilan wajah,” tambah pakar satwa liar IPB University ini.
Sementara, teknologi drone sendiri telah lama digunakan sejak 1930. Teknologi ini digunakan untuk kepentingan militer dan untuk berbagai kepentingan lainnya sejak tahun 2000, sehingga sebenarnya teknologi ini sudah siap. Hanya saja, katanya, drone belum digunakan untuk memantau ?biodiversitas sehingga perlu pengembangan-pengembangan lebih lanjut sehingga dapat menyesuaikan dengan kekhasan dan karakteristik biodiversitas yang akan dipelajari.
Adapun drone yang digunakan dalam studinya tersebut adalah drone yang dilengkapi dengan kamera termal. Drone ini diklaim mampu memonitor dan mengidentifikasi satwa berdasarkan suhu tubuh dan ukuran pixel dari satwa yang ditemukan.
Dr Dede juga menyebut, keinginannya untuk berkolaborasi dengan peneliti dari berbagai disiplin ilmu. Pasalnya, tidak hanya dengan mengenali, memahami, dan ikut mengkonservasi biodiversitas Indonesia, namun juga terkait dengan pemanfaatan potensi biodiversitas Indonesia yang sungguh luar biasa untuk kemanfaatan masyarakat Indonesia.?
Selanjutnya Dr Dede menambahkan bahwa pengembangan ilmu ekologi dan konservasi sendiri tidak akan pernah lepas dari pengembangan teknologi maju, sehingga ke depan penting membangun kolaborasi untuk mengembangkan atau bahkan menciptakan teknologi kamera tangkap dan drone termal baru yang sesuai dengan kebutuhan pemantauan biodiversitas yang ada di Indonesia,” tutupnya.





