Tidak adanya kompetisi Liga 1 dan Liga 2 membuat para pesepakbola Indonesia kehilangan mata pencaharian.
Meski terdapat regulasi setiap tim wajib membayar gaji sebesar 25 persen, namun hal tersebut tidak menjadi jaminan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Belum lagi kondisi keuangan klub yang tidak menentu bahkan beberapa diantaranya bangkrut lantaran tidak memiliki pemasukan dana sehingga kewajiban tersebut tidak terpenuhi.
Situasi ini memaksa para pemain harus ‘turun gunung’ dan mengikuti turnamen antar kampung (tarkam) demi mengais sesuap nasi.
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengaku tidak bisa melakukan pelarangan dengan keputusan para pemain.
Dia hanya mengimbau para pemain bisa menjaga kondisi agar tidak cedera dan selalu mengedepankan protokol kesehatan.
“Kami hanya dapat mengimbau. Mereka kan memang butuh pekerjaan, butuh makamn,” katanya.
Selain itu akibat pandemi COVID-19, banyak pesepakbola yang harus banting stir menjadi tukang ojek, satpam untuk mendapatkan uang.





