Kabarbandung.id – Sebagai penyandang disabilitas tunadaksa, Linda Indriani (56), sudah merasakan bagaimana sulitnya beraktivitas di ruang publik di Kota Bandung.
Dalam kesehariannya, Linda lebih sering menggunakan kursi roda. Sesekali, ia pun menggunakan tongkat dalam keadaan tertentu.
Salah satu kesulitan yang dialaminya adalah masuk ke masjid. Sebab, mayoritas masjid di Kota Bandung tidak memiliki aksesibilitas yang ramah bagi disabilitas, khususnya tunadaksa.
“Yang saya sesalkan, saya rasa masjid itu belum ada yang (ramah) untuk penyandang cacat. Bahkan sampai masuk ke Masjid (Raya Jawa Barat) Alun-alun pun belum ada (akses yang ramah bagi tunadaksa),” kata Linda saat ditemui di GOR Pajajaran, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.
Hampir di semua masjid, kondisinya memang tidak jauh berbeda. Biasanya terdapat tangga yang sulit dipakai bagi mereka yang berkursi roda. Padahal, tidak semua tunadaksa bisa menggunakan tongkat agar bisa menaiki tangga.
Di Masjid Ukhuwah yang berlokasi di Jalan Wastukencana misalnya, tangganya bahkan sangat tinggi dan banyak. Bayangkan jika seorang berkursi roda ingin masuk ke sana untuk sekedar ingin melaksanakan salat.
Bersama sang suami yang juga tunadaksa, Linda sering saling ‘mengobati’. Ia pun mencontohkan ketika ingin masuk ke Masjid Raya Jawa Barat.
“Kadang-kadang karena hampir tiap hari pakai motor roda tiga sama suami, suka lewat Masjid Agung (Raya Jawa Barat), pengin masuk ke situ, kok mereka (orang lain) bisa ya, sedangkan saya kapan ya? Lewat mana ya masuknya?” tuturnya.
Sang suami pun bergurau. Dengan kondisi keterbatasan fisik, terutama pada kaki, terbang jadi solusinya. Tapi, itu hanya sebatas candaan untuk menghibur diri.
“Kadang suami saya suka bercanda, kita mah ngapung (terbang) aja masuknya,” ucap Linda.
Solusinya, ia lebih banyak salat di rumah. Atau, ia memaksakan salat di masjid dekat GOR Pajajaran yang berdekatan dengan tempatnya berjualan aneka makanan. Meski kurang aksesibel, tapi ia berusaha memaksakan diri masuk ke masjid dengan menggunakan tongkat. Itu pun dengan catatan ia tidak bisa lama menggunakan tongkat.
Sedangkan sang suami lebih beruntung. Meski seorang tunadaksa yang sering menggunakan kursi roda, sang suami bisa menggunakan tongkat dengan waktu lebih lama.
Ia pun berharap ke depan masjid-masjid memiliki akses yang ramah bagi disabilitas tunadaksa. Minimal, ada area khusus agar kursi roda bisa masuk. Mereka yang menggunakan tongkat pun diwadahi agar tidak tergelincir.
“Kalau (disabilitas jenis yang lain) mungkin enggak begitu susah. Kayak yang tunarungu, tunanetra, tunagrahita, mereka bisa masuk. Tapi kalau yang tunadaksa enggak bisa semua (menggunakan tongkat),” jelasnya.
Selain itu, tempat wudhu pun diharapkan juga nyaman bagi disabilitas. Sehingga, mereka bisa leluasa untuk bersuci sebelum menjalankan ibadah.
“Selama ini saya lihat banyak masjid yang bagus-bagus. Tapi (karena aksesnya tidak ramah bagi disabilitas), apa enggak boleh kita solat di sini,” tutur Linda.
Selain ke masjid, akses ke beberapa instansi milik pemerintah juga belum semuanya ramah terhadap disabilitas. Ia berharap ke depan hal itu jadi bahan evaluasi dan perbaikan. Sehingga, semua orang, termasuk disabilitas, bisa menikmati dan beraktivitas di ruang publik dengan nyaman.





