Kabarbandung.id – Setiap tahunnya jumlah penderita HIV/AIDS di Jawa Barat terus meningkat. Beberapa program terus dilakukan untuk menekan jumlah penderita.
Koordinator Program Komisi Penanggulangan Aids Provinsi Jawa Barat, Landry Kusmono mengatakan dari hasil pendataan mayoritas penularan dilakukan oleh kelompok heteroseksual atau ketertarikan seks terhadap lawan jenis.
Beberapa tahun terakhir kelompok ini cukup mendominasi penularan dibandingkan kelompok populasi seperti waria dan wanita pekerja seks.
Kurang pekanya seseorang meski memiliki perilaku beresiko terutama pria menjadi alasan. Seseorang biasanya merasa sehat padahal sebetulnya dia telah tertular HIV.
“Kita gak tau siapa yang terinveksi kalau belum periksa darah atau dia mengaku tidak akan ketahuan.”
“Salah satu orang gak mau tes itu gak punya rasa sakit nah ketika terinveksi pertama kali itu ga punya rasa sakit, ketika 6 bulan atau satu tahun terasa seperti berat badan turun, diare gak berhenti-henti diperiksa baru ketahuan dan itu sudah masuk fase rawan,” kata dia kepada kabarbandung.
Landry memberi gambaran dari hasil penilitian jika seorang wanita pekerja seks terinveksi HIV dalam satu hari dia melayani 5 orang, kalau 20 hari berarti 100 orang dan mayoritas 90 persen laki-laki beristri tentunya beresiko menularkan kepada istrinya.
Kedepan Landry menjelaskan KPA Jabar akan membuat program untuk menyisir laki-laki yang sampai saat ini belum tersosialisasi secara maksimal.
“Harapan kita kedepan ada program, kalau masyarakat khawatir harusnya ga usah khawatir ke populasi kunci (waria dan wanita pekerja seks) harusnya lebih khawatir dengan populasi umum yang menyebarkan ini kalau ga dites. Kalau populasi kunci mereka sudah memiliki tingkat kesadarannya tinggi dan penularannya terkontrol tidak meningkat besar,” katanya. (kuh)





