Kabarbandung.id – Puluhan Mojang Satpol PP Kota Bandung beraksi di sela riuhnya kawasan sekitar Alun-alun Kota Bandung pada Sabtu (4/6/2019) sore.
Mereka menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Jalan Dalem Kaum yang memajang lapak dagangan seenaknya. Jika biasanya rata-rata PKL ngeyel saat ditertibkan, hal berbeda justru terlihat mereka ditertibkan para petugas perempuan.
Dengan ramah dan senyum, mereka meminta para PKL merapikan barang dagangannya agar memundurkan lapaknya. Mayoritas PKL pun langsung nurut. Bahkan, sama sekali tidak ada adu argumen seperti penertiban PKL pada umumnya.
Beberapa PKL bahkan terlihat sigap dan penuh senyum saat lapak dagangannya diminta untuk dirapikan posisinya. Beberapa di antaranya bahkan ada yang gemetar sambil membereskan lapaknya karena grogi.
Hasilnya, lapak-lapak PKL di Jalan Dalem Kaum terlihat lebih rapi. Semua terlihat sejajar satu sama lain. Sehingga, warga yang melintas di lokasi juga bisa lebih nyaman.
Kabid Trantibum Satpol PP Kota Bandung Taspen Effendi mengatakan ada 27 petugas Satpol PP perempuan yang dikerahkan dalam penertiban tersebut.
Biasanya, dalam sehari rata-rata ada 13 petugas yang dikerahkan. Khusus untuk H-1 Idul Fitri, semua personel perempuan dikerahkan.
“Kita mengedepankan konsep humanis (dalam penertiban). Dengan mengerahkan mereka di depan, PKL biasanya merasa malu dan segan,” kata Taspen.
Cara seperti itu pun cukup efektif. Sebab, sangat jarang ada adu argumen, apalagi bentrok fisik antara PKL dan petugas. Itu karena para mojang melakukan penertiban dengan persuasif dan santun.
“Dengan adanya mojang ini mereka lebih menghargai karena para mojang bicaranya santun,” ungkap Taspen.
Nova Susilawati (27), salah seorang mojang Satpol PP, mengaku sudah terbiasa menghadapi berbagai keluhan PKL saat ditertibkan. Tapi, rata-rata mereka nurut saat ditertibkan.
“Senang sih kerja gini karena kita lebih banyak di lapangan. Dukanya sering dikata-katain sama PKL. Tapi, dibawa enjoy aja karena ini sudah risiko pekerjaan,” tutur Nova.
Sebagai petugas, Nova harus merasakan tidak mudik ke kampung halamannya di Kuningan. Sebab, ia harus tetap bertugas saat orang lain justru mudik, berbelanja baju Lebaran, bahkan memasak untuk Idul Fitri.
Tapi, ia tidak mengeluh. Ia menganggap itu sebagai konsekuensi pekerjaan. Ia pun menjalaninya dengan ikhlas.
“Ini tahun pertama saya enggak bareng keluarga. Biasanya saya mudik ke Kuningan. Tapi, enggak apa-apa, ini sudah tanggung jawab dan risik kerjaan,” ucap Nova.
(bud)





