Kabarbandung.id – Musim kemarau yang terjadi sejak April 2019, mulai berdampak kepada ketersediaan air bersih.
Permukaan air Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca yang menjadi sumber air baku PDAM Tirtawening Kota Bandung turun hingga 6 sentimeter setiap harinya.
Direktur Utama PDAM Tirtawening, Sonny Salimi mengatakan hingga saat ini penurunan permukaan air berpengaruh secara signifikan terhadap kuantitas pasokan air yang dikelola di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Badaksinga.
Hingga saat ini jumlah produksi air PDAM masih berada pada kisaran normal, yakni 2.400-2.500 liter perdetik.
Tak hanya itu, PDAM Tirtawening juga mengandalkan sumber air baku lainnya dari Sungai Cisangkuy, Sungai Cikapundung, Sungai Cibeureum, dan Sungai Cipanjalu. Sungai-sungai tersebut tersebar di beberapa wilayah di Kota Bandung dengan kapasitas produksi mencapai 20 liter per detik.
“Tapi kalau bicara tentang kekeringan yang mencapai puncak pada Agustus-September ini, saya juga khawatir soal cadangan air baku,” katanya.
Berdasarkan pengalamannya selama tiga tahun bertugas di PDAM, jika dalam kurun waktu 4 bulan sama sekali tidak turun hujan, situ-situ yang menjadi sumber air baku bisa kekeringan. Hal itu tentu akan menimbulkan masalah serius.
“Kita memastikan unit-unit produksi kita bisa berjalan 24 jam secara maksimal. Kita membersihkan unit-unit produksi. Kita ingin memastikan pompa-pompa berjalan dengan baik dan stok-stok cukup,” jelasnya.
Oleh karenanya, ia mengimbau warga untuk menggunakan air secara bijak agar pasokan air terjaga hingga melewati puncak musim kemarau. Perilaku warga terhadap air juga berpengaruh terhadap ketersediaan air di Kota Bandung.





