close
KABARBANDUNG
  • HOME
  • KABAR KOTA
  • KABAR PERSIB
  • KABAR JABAR
  • KABAR NUSANTARA
  • SERBA SERBI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Senin, 27 April 2026
  • HOME
  • KABAR KOTA
  • KABAR PERSIB
  • KABAR JABAR
  • KABAR NUSANTARA
  • SERBA SERBI
  • INDEKS
No Result
View All Result
KABARBANDUNG
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Cerita di Balik Markas Pejuang COVID-19

Budiana
Sabtu, 5 September 2020 - 10:52:47
in HEADLINE, KABAR KOTA
Cerita di Balik Markas Pejuang COVID-19

Humas Kota Bandung

Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Bandung – Sejak Covid-19 mewabah, salah satu tempat di Kota Bandung yang sering disebut yaitu Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr. Hasan Sadikin (RSHS). Hal itu karena RSHS merupakan salah satu pusat rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

RSHS menjadi salah satu rumah sakit garda terdepan memerangi Covid-19

Keberadaan RSHS memang tak bisa dilepaskan dengan Kota Bandung. Situs resmi RSHS menyebut, rumah sakit ini dibangun sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1920 dan diresmikan 15 Oktober 1923 dengan nama “Het Algemene Bandoengsche Ziekenhuis” (Rumah sakit Umum Bandung).

Empat tahun kemudian, nama ini diubah menjadi “Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana” (Rumah Sakit Kota Juliana).

Kapasitas Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana di awal berdirinya hanya 300 tempat tidur dan diperkuat enam dokter berkebangsaan Belanda. Satu di antaranya, ahli bedah yang tidak bekerja penuh dan dua dokter berkebangsaan Indonesia, yaitu dr. Tjokro Hadidjojo dan dr. Djundjunan Setiakusumah.

Hingga akhirnya perang Pasifik yang pecah pada 1942 mengubah Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana menjadi rumah sakit militer Belanda. Namun tentata Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia dan menduduki Pulau Jawa.

Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana tetap sebagai rumah sakit militer, namun namanya berubah menjadi ?Rigukun Byoin?.

Ketika Indonesia merdeka lewat Proklamasi 17 Agustus 1945, RSHS kembali dikuasai oleh Belanda. Fungsinya masih tetap sebagai rumah sakit militer. Baru pada 1948, fungsi rumah sakit berubah menjadi fasilitas kesehatan untuk umum.

Direktur pertama RSHS adalah orang Belanda, yakni W. J. van Thiel. Ia menjabat sebagai direktur sejak sebelum Jepang menduduki Priangan. Thiel masih memimpin rumah sakit sampai 1949. Selanjutnya, rumah sakit dipimpin Dr Paryono Suriodipuro sampai 1953.

Tidak jelas kapan tepatnya perubahan nama Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana atau Rigukun Byoin menjadi Rumah Sakit Ranca Badak. Yang jelas, sebutan itu datang dari masyarakat sendiri.

Sejumlah sumber menyebutkan, setelah Indonesia merdeka, RSHS dikelola oleh pemerintah daerah. Masyarakat menyebut rumah sakit ini dengan nama ?Rumah Sakit Rantja Badak?.

Pada 1954, rumah sakit Rumah Sakit Ranca Badak ditetapkan menjadi rumah sakit provinsi dan diawasi langsung Departemen Kesehatan.

Soal nama Ranca Badak, ia diambil dari nama kampung yang menjadi tempat berdirinya rumah sakit, yakni kampung Ranca Badak. Ranca merupakan istilah bahasa Sunda yang berarti rawa. Di Jawa Barat, ada banyak tempat yang namanya memakai istilah ranca.

Pada 1956 Rumah Sakit Ranca Badak dijadikan rumah sakit umum dengan kapasitas 600 tempat tidur. Di saat yang sama, pemerintah mendirikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).

Rumah Sakit Ranca Badak lalu berfungsi sebagai tempat pendidikan oleh FK Unpad. Hal ini menjadi awal kerja sama antara Rumah Sakit Ranca Badak dan FK Unpad. Perubahan nama rumah sakit kembali terjadi ketika rumah sakit ini dipimpin Dr. Hasan Sadikin yang juga Dekan FK UNPAD.

Selagi menjabat sebagai direktur dan dekan, Hasan Sadikin meninggal dunia (16 Juli 1967). Maka untuk menghormati pengabdian dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Ranca Badak pun berubah namanya menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin atau RSHS.

Bagi kaum milenial, nama Ranca Badak mungkin terdengar asing. Namun bagi warga Kota Bandung zaman baheula menyebut RSHS dengan sebutan Ranca Badak. (bud)

Previous Post

Oded Jadi Saksi Kasus RTH

Next Post

Berjuang Kejar 8 Kali Juara MTQ Jabar

    Recent News

    Tokoh Tionghoa Jabar Minta Warga Keturunan Tionghoa Tidak Golput

    Tokoh Tionghoa Jabar Minta Warga Keturunan Tionghoa Tidak Golput

    Selasa, 6 Februari 2024 - 18:42:00
    Seniman dan Budayawan Bandung Gelar Diskusi Kebudayaan “Ngajabarkeun Abah Anies”

    Seniman dan Budayawan Bandung Gelar Diskusi Kebudayaan “Ngajabarkeun Abah Anies”

    Minggu, 4 Februari 2024 - 17:35:08
    Mengenal Sosok Vic Fadlin, Pemuda Kota Bandung yang Raih Gelar Mister Grand Tourism Indonesia 2024

    Mengenal Sosok Vic Fadlin, Pemuda Kota Bandung yang Raih Gelar Mister Grand Tourism Indonesia 2024

    Jumat, 2 Februari 2024 - 13:20:48
    Safari Politik Capres Anies ke Jawa Barat Naikan Elektoral Positif

    Safari Politik Capres Anies ke Jawa Barat Naikan Elektoral Positif

    Rabu, 31 Januari 2024 - 19:37:18
    KABARBANDUNG

    © 2021 Kabar Bandung

    Navigate Site

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Beriklan
    • Pedoman Media Siber

    Follow Us

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • KABAR KOTA
    • KABAR PERSIB
    • KABAR JABAR
    • KABAR NUSANTARA
    • SERBA SERBI
    • INDEKS

    © 2021 Kabar Bandung

    • 2021 Nhra Helmet Rules
    This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.