close
KABARBANDUNG
  • HOME
  • KABAR KOTA
  • KABAR PERSIB
  • KABAR JABAR
  • KABAR NUSANTARA
  • SERBA SERBI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Senin, 20 April 2026
  • HOME
  • KABAR KOTA
  • KABAR PERSIB
  • KABAR JABAR
  • KABAR NUSANTARA
  • SERBA SERBI
  • INDEKS
No Result
View All Result
KABARBANDUNG
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Bahagia dari Serabi Bayar Seikhlasnya

Budiana
Kamis, 31 Desember 2020 - 09:20:14
in HEADLINE, KABAR KOTA
Bahagia dari Serabi Bayar Seikhlasnya

Serabi bayar seikhlasnya. (Budiana/Kabarbandung.id)

Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Bandung – Yani Aswin (61) punya cara sendiri berbagi kebaikan. Ia beraksi melalui serabi atau orang Sunda kerap menyebutnya surabi.

Setiap hari, kecuali senin dan kamis, ia menjual serabi dari pukul 07.00-09.00 WIB. Bersama pegawainya, ia membuat serabi di depan gerbang rumahnya.

Serabi yang dijual tidak dipatok harga. Ia mempersilakan konsumen membayar seikhlasnya. Berapapun uang dari konsumen, ia akan menerimanya.

Kadang, ada konsumen bingung dan bertanya kenapa serabi itu dijual ‘tanpa harga’. Yani atau pegawainya dengan senang hati menjawabnya. Mereka akan menjelaskan jika uang hasil penjualan serabi digunakan untuk subsidi silang.

Selain menjual dengan harga seikhlasnya, Yani dan pegawainya kerap memanggil orang yang melintas di depan mereka, mulai dari pengendara ojek online (ojol), pemulung, dan warga dari kalangan mengenah bawah. Mereka akan diberikan serabi gratis.

Ia menerapkan konsep subsidi silang. Sebab, mereka yang mampu dipersilakan membayar seikhlasnya dan warga kurang mampu diberi gratis.

Dengan cara itu, Yani memutar uang hasil penjualan. Setelah dipotong membayar pegawai, hasil penjualan bakal dipakai untuk belanja bahan-bahan pembuatan serabi di hari berikutnya.

(Budiana/Kabarbandung.id)

Dalam sehari, ada sekitar 60-100 serabi yang dibuat. Serabi yang dibuat akan dipastikan habis. Sebab, ketika masih tersisa, serabi pasti dibagikan kepada warga sekitar atau orang yang melintas di lokasi.

Hasil penjualan pun tak bisa diprediksi. Sebab, ada kalanya bisa menghasilkan ratusan ribu, ada kalanya jauh dari itu. Bahkan, Yani mengaku pernah dalam sehari hanya menerima uang Rp5 ribu dari hasil berjualan.

Misi hingga Resep
Yani mengaku hanya ingin mencari kebahagiaan dengan cara sederhana yang bisa dilakukannya. Serabi pun jadi jalan untuk mewujudkan hal itu.

Lewat serabi, ia melakukan ‘serangan’ terhadap perut orang yang membutuhkan sarapan. Serabi pun bisa jadi sarana mengajak orang lain beramal dengan konsep bayar seikhlasnya. Sebab, konsumen tahu berapapun nominal yang diberikan akan bermanfaat untuk orang lain.

“Saya punya konsep jualan ini adalah berdagang sambil beramal. Saya jualan surabi kepada mereka yang berkemampuan, tapi surabi saya berikan cuma-cuma kepada yang lain (yang kurang mampu),” ujar Yani.

(Budiana/Kabarbandung.id)

Ada rasa bahagia yang dirasakan Yani melalui usaha serabinya. Meski terkesan sederhana, kebahagiaan yang dirasa menurutnya sangat besar dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Apalagi ketika yang diberikan serabi memperlihatkan raut wajah gembira, hal seperti itu tak pernah bisa dibandingkan dengan nominal berapapun.

“Saya ingin di sisa usia saya bisa bermanfaat untuk orang lain,” ungkap Yani.

Sejak Oktober 2020 ia menjalankan usaha tersebut. Ia merasa membuat serabi jadi hal realistis yang bisa dilakukannya. Sebab, ia merasa punya kemampuan di situ dibanding makanan atau masakan lainnya.

Serabi yang dibuat pun tak asal-asalan. Ia melakukan riset lebih dulu. Sebelum dijual seperti sekarang, ia membagikannya kepada orang-orang dekatnya dan meminta saran mereka. Hasilnya, ia bisa membuat resep final untuk serabinya berdasarkan masukan orang-orang yang dikenalnya.

Hasilnya, perpaduan kenyal dan empuk serabi menjadi satu. Apalagi ketika dimakan dalam keadaan hangat, serabi ini akan jauh lebih nikmat. Serabinya sendiri tergolong tradisional karena taburan di atasnya adalah oncom, cokelat, dan polos.

Yang menarik, meski dimasak dengan kayu bakar, serabi Yani tak berbau asap menyengat. Ini berbeda dengan serabi di tempat lain yang terkadang bau asapnya cukup menyengat.

“Dari sekian banyak resep, resep ini yang paling enak,” ucapnya.?(bud)

#jne #jne30tahun #connectinghappiness #30tahunbahagiabersama

Tags: amalkabar bandungkabar kotakulinerserabiserba serbisurabi
Previous Post

IPP Jabar Melesat 14 Peringkat, Ridwan Kamil Puji Kinerja Dispora Jabar

Next Post

1,8 Juta Dosis Vaksin Sinovac Kembali Tiba

    Recent News

    Tokoh Tionghoa Jabar Minta Warga Keturunan Tionghoa Tidak Golput

    Tokoh Tionghoa Jabar Minta Warga Keturunan Tionghoa Tidak Golput

    Selasa, 6 Februari 2024 - 18:42:00
    Seniman dan Budayawan Bandung Gelar Diskusi Kebudayaan “Ngajabarkeun Abah Anies”

    Seniman dan Budayawan Bandung Gelar Diskusi Kebudayaan “Ngajabarkeun Abah Anies”

    Minggu, 4 Februari 2024 - 17:35:08
    Mengenal Sosok Vic Fadlin, Pemuda Kota Bandung yang Raih Gelar Mister Grand Tourism Indonesia 2024

    Mengenal Sosok Vic Fadlin, Pemuda Kota Bandung yang Raih Gelar Mister Grand Tourism Indonesia 2024

    Jumat, 2 Februari 2024 - 13:20:48
    Safari Politik Capres Anies ke Jawa Barat Naikan Elektoral Positif

    Safari Politik Capres Anies ke Jawa Barat Naikan Elektoral Positif

    Rabu, 31 Januari 2024 - 19:37:18
    KABARBANDUNG

    © 2021 Kabar Bandung

    Navigate Site

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Beriklan
    • Pedoman Media Siber

    Follow Us

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • KABAR KOTA
    • KABAR PERSIB
    • KABAR JABAR
    • KABAR NUSANTARA
    • SERBA SERBI
    • INDEKS

    © 2021 Kabar Bandung

    • 2021 Nhra Helmet Rules
    This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.