Kabarbandung.id – Kasus penderita HIV positif di Jawa Barat terus bertambah. Setiap tahunnya terdapat lima ribu hingga enam ribu penderita baru.
Dari hasil pendataan hingga September 2018 terdapat 35.825 kasus dan 46 persen didominasi oleh heteroseksual atau hubungan seksual berbeda kelamin.
Yang lebih miris dari jumlah heteroseksual yang tertular 32 persennya merupakan perempuan namun hanya 20 persen adalah wanita pekerja seks dan pengguna narkoba.
“Di masyarakat umum kalau melihat kasus itu dikelompok heteroseksual lebih banyak laki-laki yang menularkan virus hiv ke pasangan. Kalau melihat latar belakang bukan masalah dari kelompok populasi seperti wps (wanita pekerja seks), waria, tapi justru laki-laki yang memiliki pasangan,” kata Koordinator Program Komisi Penanggulangan Aids Provinsi Jawa Barat, Landry Kusmono kepada kabarbandung.
Menurutnya untuk bisa menekan kasus penyebaran dari kelompok umum yaitu heteroseksual cukup sulit karena kebanyakan laki-laki yang mempunyai perilaku beresiko kurang memiliki kesadaran untuk melakukan tes hiv/aids.
Biasanya para penderita HIV dari heteroseksual baru sadar ketika sudah menderita sakit seperti berat badan turun drastis, diare tidak berhenti dan masuk fase 1.
“Kebanyakan masuk fase 1 itu tinggal beberapa hari meninggal dan sudah positif AIDS.”
“Seperti ibu rumah tangga biasanya tahu ketika anak sakit di tes baru ketauan ternyata dari ibunya dan dari bapanya,” katanya.
Landry mengimbau kepada masyarakat terutama yang memiliki perlaku beresiko untuk melakukan tes HIV/AIDS.
“Tes itu bukan karena takut mati, hanya agar tidak menularkan ke orang lain dan mendapatkan perawatan yang terbaik,” katanya.





