Kabarbandung.id – Baraya Bandung, musim hujan akan segera datang dalam beberapa pekan ke depan. Kamu perlu waspada karena saat musim hujan, potensi terjadinya demam berdarah dengue (DBD) cukup tinggi.
Dalam dua tahun terakhir, warga Kota Bandung yang terjangkit DBD cukup memprihatinkan. Pada 2018, jumlahnya mencapai 2.826 kasus. Sedangkan pada Januari-Agustus tahun ini saja sudah mencapai 2.247 kasus.
“Itu baru sampai Agustus, sementara (data) ke depan masih ada September, Oktober, November, Desember. Biasanya saat Desember meningkat tajam (jumlah pasien DBD),” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung Rosye Arosdiani Apip.
Dari jumlah kasus yang ada, sekitar 40 persen di antaranya terjadi pada anak rentang usia 1-14 tahun. Sedangkan selebihnya adalah menimpa usia 15 tahun ke atas.
Setiap tahunnya, selalu saja ada yang meninggal karena DBD. Karena itu, masyarakat perlu waspada dan segera membawa ke dokter atau pusat layanan kesehatan jika ada anggota keluarganya memperlihatkan gejala DBD.
“Rata-rata meninggalnya itu karena keterlambatan penanganan,” ungkap Rosye.
Biasanya, jika ada yang demam, obat warung jadi solusi pertama warga. Jika setelah tiga hari tak kunjung sembuh, baru dokter jadi tujuan. Padahal, tujuh hari pertama demam adalah masa kritis DBD.
Ia pun menyarankan agar pemeriksaan dokter langsung dilakukan jika warga mengalami demam tinggi. Jangan tunggu beberapa hari agar dokter bisa memberi pertolongan tepat. Bahkan, jika ada indikasi DBD, penanganan juga bisa lebih cepat dilakukan.
“Di Kota Bandung ini banyak fasilitas kesehatan, tapi tanpa kesadaran (memeriksakan demam sejak dini) ternyata enggak banyak membantu. Artinya, angka kematian selalu saja ada meski jumlahnya tidak banyak,” jelas Rosye.
Sementara untuk mengantisipasi mewabahnya DBD, menurutnya Dinkes sudah melakukan berbagai langkah. Selain menggalakan sosialisasi program 3M Plus, ada gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan berbagai gerakan lainnya.
Tapi, kunci dari semua itu adalah tetap kesadaran warga. Jangan sampai warga justru abai dengan potensi hadirnya nyamuk aedes aegypti di lingkungannya.
“Masing-masing individu punya tanggung jawab untuk perindukan atau pemberantasan nyamuk,” tandas Rosye. (bud)





