Bandung – Setelah lima hari tinggal di trotoar, 32 tunanetra akhirnya bisa kembali tinggal di asrama Wyata Guna sejak Sabtu (18/1/2020) sore.
“Bagi yang diusir pihak balai bisa diterima kembali dan dipulihkan semua haknya agar bisa melanjutkan pendidikan (di Wyata Guna) sampai selesai,” kata Elda Fahmi, juru bicara aksi.
Hal itu setelah ada kesepakatan antara Kementerian Sosial dengan mereka. Selain itu, ada juga kesepakatan lain, salah satunya mereka dijanjikan akan difasilitasi bertemu Menteri Sosial dan Dinas Sosial Jawa Barat maksimal dalam dua bulan ke depan.
Itu akan jadi sarana bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Jika tidak diwujudkan, mereka akan kembali menggelar aksi, salah satu opsinya adalah longmarch dari Bandung menuju Jakarta untuk menemui Presiden Joko Widodo.
“Kami difasilitasi akan bertemu Menteri Sosial langsung dan Dinas Sosial Jawa Barat agar dapat mencari solusi untuk tuntutan kami,” ucap Elda.

Menurutnya, meski kini diperbolehkan tinggal di asrama dan hak rekan-rekannya dipulihkan, bukan berari perjuangan berakhir. Sebab, tuntutan utama mereka adalah pencabutan Permensos Nomor 18 Tahun 2018.
Sebab, Permensos itu bukan hanya berdampak untuk Wyata Guna, tapi juga tempat lain yang nomenklaturnya berubah dari panti menjadi balai.
“Kami ingin Permensos dicabut untuk memulihkan sistem panti se-Indonesia agar teman-teman di manapun, status apapun, usia berapapun, bisa diterima untuk mendapat pendidikan dasar,” jelas Elda.
Panti yang berubah nomenklatur menjadi balai jelas berbeda. Saat menjadi panti, peserta didik bisa menghuni asrama hingga 17 tahun, tepatnya sejak masuk SD, SMP, SMA, hingga kuliah.
Sedangkan setelah menjadi balai, tempat itu hanya jadi tempat pendidikan lanjutan dengan masa pendidikan enam bulan. Waktu enam bulan juga jadi batas terlama peserta didik tinggal di asrama balai.
Meski masih ada tuntutan yang belum terwujud, Elda dan rekan-rekannya tetap bersyukur. Sebab, mereka kini bisa tinggal lagi di asrama, mendapat pendidikan, serta pemulihan hak yang sempat hilang.
“Terima kasih juga kepada semua pihak atas dukungan, apresiasi, dan semangat yang benar-benar kuat dan berkobat. Sehingga kami bisa bertahan (melakukan aksi selama lima hari),” ucap Elda di sela penutupan aksinya.

Sementara usai menutup aksi, 32 orang itu pun masuk ke dalam Wyata Guna dan menuju asrama. Barang-barang mereka yang semula bertumpuk di trotoar juga turut diangkut.
Mereka dibantu relawan, mahasiswa, hingga driver ojek online yang konsisten mendampingi mereka selama lima hari beraksi. (bud)





