Banyaknya komunitas dengan narasi agama di Kota Bandung dikhawatirkan bakal memunculkan sikap ekslusivitas dan intoleran.
Situasi pandemi Covid-19 membuat kondisi komunitas-komunitas anak muda di Kota Bandung semakin terpuruk, ruang eksistensi dan harapan pekerjaan menjadi lebih sulit didapatkan.
Founder Komunitas Musisi Mengaji, Eggy Fauzie, mengatakan, di masa pandemi ini, minat anak muda lebih banyak pada narasi keagamaan. Berbagai komunitas anak muda dengan narasi keagamaan pun bermunculan.
“Pertumbuhan yang seharusnya positif, justru memunculkan berbagai masalah baru ditengah situasi saat ini, pengkultusan, sikap ekslusivitas, saling serang pemikiran dan klaim kebenaran sering terjadi diberbagai komunitas anak muda yang berminat mempelajari agama,” ujar Eggy dalam keterangan resminya, Kamis 3 Februari 2022.
Fanatisme yang tumbuh, kata dia, menganggap orang-orang di luar kelompok mereka salah dan tidak menerima berbagai pendapat yang berbeda.
“Dikhawatirkan membuat tingkat? intoleransi generasi millennial di kota Bandung menjadi semakin tinggi, mengingat dan mengganggu keharmonisan antar umat beragama di kota Bandung,” katanya.
Merespon masalah tersebut, pihaknya menggelar Festival?Merawat?Beda dengan tujuan mendorong penguatan nilai inklusif melalui sebuah kegiatan acara apresiasi kreatif yang menyuarakan nilai toleransi terhadap perbedaan.
Acara ini, kata dia, menjadi ruang aktualisasi bagi anak muda sekaligus untuk menjadi contoh solusi yang bisa mendorong minat bergerak dalam situasi pandemi melalui dunia digital sekaligus menjadi ajang kolaborasi bagi komunitas kreatif sehingga terjalin kerjasama yang berdampak pada penguatan nilai toleransi pada kelompok anak muda.
“Event ini juga menjadi ajang kampanye nilai toleransi terhadap anak muda di Kota Bandung, secara lebih luas yang dilakukan oleh komunitas kreatif melalui karya mereka,” ucapnya.
Kegiatan Festival?Merawat?Beda ini akan dikemas dalam bentuk diskusi karya dan pameran seni rupa, fotografi, ilustrasi, film, pertunjukan musik dan sastra dari berbagai seniman, praktisi dan sutradara.
“Acara ini diselenggarakan secara hybrid di cafe Cudeto Jalan Cilaki, mulai pukul 13.00 ? 22.00 WIB, dihadiri oleh berbagai komunitas kreatif dari Bandung, Tasikmalaya, dan Garut dan komunitas lintas iman,” katanya.





