Mau merasakan sensasi berenang dengan hiu tutul sebesar 8 meter dan lebar 2,5 meter? Coba kunjungi Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Butuh adrenalin tinggi untuk nyebur ke air jernih Laut Talisayan, Berau, Kalimantan Timur. Meskipun disebut jinak, binatang yang kerap disebut whale shark ini tetap pemangsa nomor satu.
Simak saja ucapan seorang pemandu wisaya, Yudhi Rizal yang menemani kabarbandung.id untuk mencoba tantangan itu beberapa waktu lalu.
“(Hiu Tutul) Tidak bahaya. Dia tidak gigit. Paling disedot. Kalau tidak dikunyah, dilepehin (dikeluarkan lagi).”
Kalau ditelaah, memang hiu tutul ini tidak memiliki gigi. Untuk memangsa makanan, dia menggunakan kekuatan sedotannya, kemudian dikunyah di dalam.
Sesuai nama, Laut Talisayan berada di Desa Talisayan. Untuk menjangkau desa itu, butuh perjalanan darat selama 4 jam dari Bandara Kalimarau, Tanjung Redeb. Kita bisa menyewa taksi seharga Rp700 ribu. Jangan membayangkan taksinya merupakan sedan, tetapi minibus semacam Kijang, Avanza, dan sebagainya.
Setibanya di Talisayan, wisatawan langsung bertemu pelabuhan kecil tempat nelayan setempat melabuhkan perahu. Di desa itu, terdapat 4 penginapan dengan harga terjangkau mulai Rp150 ribu sampai Rp225 ribu per malam, tergantung fasilitas.
Untuk menikmati sensasi berenang dengan hiu tutul, wisatawan diperkenankan memulai petualangan pukul 04.00 waktu setempat. Perjalanan ke lokasi hiu harus menggunakan perahu. Nelayan setempat memberi tarif sewa perahunya sekitar Rp800 ribu sampai Rp1 juta.
Lokasi kelompok hiu tutul disebut bagan. Di tempat itu, nelayan secara berkelompok memberi makan dengan berbagai macam jenis ikan, seperti cumi, teri, dan ikan kecil lainnya. Di setiap bagan, terdapat 8-10 ekor hiu tutul dengan ukuran maksimal sekitar 12 meter.
Tidak menunggu lama, setelah hiu tutul mendapat pasokan makanan, wisatawan boleh nyebur ke lautan. Kalau tidak bisa menyelam, wisatawan bisa menggunakan pelampung dan alat snorkling. Para hiu tersebut tidak merasa terganggu oleh kehadiran manusia. Untuk mengabadikan momentum langka itu, kita perlu membekali diri dengan kamera bawah air.
Habitat hiu tutul di bagan Laut Talisayan sudah ditemukan nelayan setempat sejak lama. Tetapi momentum berenang bersama hiu, pertama kali dikenalkan oleh Yudhi Rizal. Pemuda asli Berau ini berhasil mengabadikan momen berenang dengan hiu menggunakan kamera bawah air. Kemudian hasilnya disebarkan melalui sejumlah media massa dan online. Rupanya respons wisatawan cukup bagus. Tak sedikit yang mempertanyakan lokasi Laut Talisayan.
“Akhir tahun 2012 saya perkenalkan berenang dengan hiu tutul ini. Alhamdulillah banyak wisatawan yang tertarik,” kata Yudhi di Bagan I Laut Talisayan.
Awalnya Yudhi mengaku kesulitan memberikan penyadaran kepada nelayan. Kadangkala hiu tutul ini diburu karena dianggap merugikan penghasilan nelayan. Tetapi setelah dibuktikan tidak berbahaya, akhirnya nelayan malah turut berperan menyelamatkan hiu tutul tersebut dengan membangun bagan-bagan.
“Tetapi syarat untuk bisa melihat hiu ini jangan malam terang bulan. Soalnya aktivitas bagan berhenti. Hiu-hiu ini juga tidak akan kelihatan,” jelasnya.
Jadi, siapa yang sekarang punya keberanian penuh berenang dengan makhluk raksasa tersebut? Sila kunjungi Berau. Selama ini Berau juga dikenal dengan Labuhan Cermin dan Kepulauan Derawan, meliputi Derawan, Sangalaki, Maratua, Kakaban, dan pulau-pulau lainnya. Maka, usai berenang dengan hiu, selami jernihnya Labuhan Cermin dan snorkling atau diving di Kepulauan Derawan.





