Kabarbandung.id – Seorang dari ilmuman Institut Teknologi Bandung, Pandji Prawisuda, berhasil merubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Dengan menggunakan metode pirolisis atau pemanasan melaui oksigen, Pandji memanfaatkan sampah plastik menjadi BBM salah satunya bekas bungkus mie instan.
Ide itu muncul dibenak Pandji, karena Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Hal itu pun menjadi rencana besar bagi Pandji agar sampah plastik tidak lagi menjadi limbah berbahaya bagi lingkungan.
Pandji menuturkan, butuh waktu hingga 20 menit untuk memanaskan sampah plastik tersebut dengan teknologi yang telah dibuatkan untuk menjadi gas terlebih dahulu. Proses pun berlanjut dan membutuhkan waktu lagi hingga 30 menit untuk memastikan sampah plasti itu menjadi minyak.
“ketika kita memanaskan itu biasanya butuh waktu sekitar 15-20 menit sampai temperatur naik. Setelah itu kita tunggu plastiknya rumer lalu nanti berubah jadi gas dan setelah itu kita korelisasikan menjadi minyak membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai keluar minyaknya,” ujar Pandji.
Namun tidak semua jenis sampah plastik bisa langsung menjadi minyak setelah melalui dua tahapan tersebut. Pasalnya terdapat beberapa sampah plastik yang tidak mudah terurai dan berubah menjadi gam atau karet.
“Setiap plastik sendiri berbeda, ada plastik-plastik yang mudah ada juga yang bahkan dia berubah menjadi gam kaya karet. Kebetulan juga plastik-plastik yang tidak bisa di recycle dari popipoilem relatif lebih mudah menjadi minyak. Seperti botol air mineral, dia titik lelehnya tinggi, tidak akan jadi minyak tapi jadi seperti lilin, lebih baik di recycle saja,” ungkapnya.
Ia mengatakan, percobaan tersebut dilakukan sejak 2013 silam saat melanjutkan pendidikan ke strata 3 (S3). Alat yang ia ciptakan tersebut pun baru bisa menghasilkan tiga liter minyak untuk kebutuhan pembakaran atau pengganti gas hasil dari peleburan 200 gram sampah plastik
“Udah cek di lab untuk melihat rantai karbon terutama untuk bahan bermotor. Tapi hasil pendahuluan hanya untuk bahan bakar minyak seperti untuk masak menggunakan kompor yang belum memiliki kompor gas,” sambungnya.
Namun ia berupaya untuk tetap mewujudkan sampah plasti menjadi bahan bakar kendaraan bermotor dengan memanfaatkan sampah di aliran sungai Citarum. Pasalnya, lanjut Pandji, sampah-sampah plasti di aliran sungai Citarum sangat banyak yang menjadi masalah lingkungan di Jawa Barat saat ini.
“Masalahnya sampai di sungai tercampur, karena kita biasa buang sisa makanan dalam kantong plastik dan diplastikin lagi. Sehingga esisiensinya tidak terlalu tinggi karena sampahnya basah. Tapi saya akan terus mencoba untuk memanfaatkan sampah-sampah plasti yang ada di sungai untuk menjadi bahan bakar motor,” ungkapnya. (bil)





