Kabarbandung.id – Program Grab to Work mulai dijalankan hari ini di Kota Bandung. Tapi, program itu masih uji coba dan belum tentu dijalankan permanen.
“Ini kan masih uji coba, belum berupa kebijakan. Kalau program ini ternyata jelek, gagal, tidak akan dilanjutkan. Kalau enggak, kita perbaiki dulu sistemnya,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Didi Ruswandi di Balai Kota Bandung, Senin (11/3/2019).
Grab to Work sendiri merupakan program car pooling dengan peserta uji coba sebagian aparatur sipil negara (ASN) beberapa dinas di Kota Bandung. Mekanismenya, ASN berkumpul di satu titik, kemudian pergi menggunakan Grab Car secara berkelompok.
Didi pun secara khusus memberlakukan sanksi bagi ASN yang tidak mengikuti program itu. Karyawan biasa didenda Rp50 ribu per hari, sedangkan pejabat struktural dendanya Rp100 ribu per hari.
Denda itu sengaja diberlakukan agar karyawan Dinas Perhubungan bisa merasakan langsung layanan tersebut untuk jadi bahan evaluasi. Hasil evaluasi nantinya akan jadi salah satu acuan apakah program itu akan dibuat jangka panjang atau tidak.
Tapi, meski masih uji coba, program itu diprotes keras pelaku usaha yang tergabung di Koperasi Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung. Program itu dinilai menguntungkan Grab sebagai pelaku transportasi online. Sebaliknya, program tersebut membuat pelaku usaha angkutan kota (angkot) makin tenggelam.
Didi pun tidak mempermasalahkan protes tersebut. Ia bahkan mengajak pelaku usaha transportasi di luar Grab untuk ikut program tersebut, termasuk angkot.
“Kalau yang lain mau ikut uji coba (car pooling), boleh, kita tunggu,” ucapnya.
Peluang pelaku usaha transportasi, termasuk angkot, menurutnya sama-sama terbuka. Ia mencontohkan, angkot bisa menerapkan car pooling untuk mengangkut rombongan siswa pergi ke sekolah. Bahkan, angkot itu bisa melewati rute yang selama ini tidak dilewati.
“Angkot juga pernah melakukan program Angkot to School di SMPN 26, ini bentuk lain dari car pooling, siswa dijemput di satu titik untuk pergi ke sekolah,” jelas Didi.
Tapi, program itu tidak berjalan alias hanya sebatas uji coba. Ada berbagai kendala yang dihadapi, salah satunya ketidaksiapan pengelola angkot untuk menjalankannya secara kontinyu. (bud)





