Kabarbandung.id – SLB C Plus Asih Manunggal di Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, jadi korban dalam aksi May Day pada 1 Mei 2019.
Tembok sekolah dicorat-coret oleh massa aksi. Para pelaku pun sempat terlibat kericuhan di sela aksi dan ditangkap oleh polisi.
Aksi negatif itu ternyata membuat para siswa SLB di sana tertekan. Mereka ketakutan karena tahu sekolahnya jadi korban. Bahkan, banyak siswa yang akhirnya tidak sekolah setelah kejadian.
“Kita ngobrol dengan kepala sekolahnya, banyak adik-adik disabilitas siswa di sini yang trauma. Dari 50 siswa, hanya 20 siswa yang masuk sekolah. Mereka ketakutan karena mereka lebih sensitif,” kata Irvina Annisa.
Berangkat dari hal itu, Irvina kemudian mengagas kegiatan menggambar di tembok sekolah yang jadi korban. Yang terlibat jadi relawan cukup banyak, yaitu mencapai 30 orang.
Bukan dibayar, para relawan itu justru mengeluarkan uang dan peralatan sendiri untuk menggambar. Bahkan, ada beberapa orang yang tidak hadir ikut menyumbang untuk kelancaran kegiatan.
Gambar-gambar menarik pun dibuat, mulai dari bunga hingga bus dengan warna-warna mencolok. Hal itu sengaja dibuat untuk membuat siswa di sana tertarik kembali masuk sekolah dan kembali ceria.
“Saya pernah belajar art therapy, itu bagus sekali untuk terapi terutama untuk anak-anak disabilitas warna-warna cerah seperti ini. Kita bikin ini supaya anak-anak kembali ceria dan senang ke sekolah, sekaligus trauma healing juga,” jelas Irvina. (bud)





