Bandung – Tunanetra yang tinggal di asrama BPRSDN Wyata Guna meminta bertemu Menteri Sosial Tri Rismaharini. Mereka menagih janji yang sudah diberikan pihak Kementerian Sosial setahun lalu.
Permintaan itu disampaikan dalam aksi di depan Wyata Guna, Kota Bandung, Senin (18/1/2021). Mengatasnamakan diri Forum Akademisi Luar Biasa Jawa Barat, aksi itu sebagai bentuk napak tilas atas peristiwa setahun lalu saat mereka dipaksa keluar dari asrama karena ada perubahan nomenklatur Wyata Guna dari panti menjadi balai.
Sebagai bentuk protes, saat itu mereka sempat tinggal di trotoar beberapa hari. Hingga akhirnya, mereka diperbolehkan kembali tinggal di asrama dan dijanjikan dijadwalkan bertemu Menteri Sosial saat itu.
Namun, janji bertemu Menteri Sosial tak kunjung terlaksana hingga kini. Padahal, pertemuan itu diharapkan terjadi agar mereka bisa menyampaikan aspirasi secara langsung, terutama mengembalikan status balai kembali jadi panti.
“Kita sudah sering menagih janji, sudah beberapa kali ngirim surat, tapi enggak ada tanggapan sama sekali dari kementerian. Padahal waktu itu perjanjiannya dibuat di atas materai, mereka benar-benar melanggar hukum,” ujar Ketua Forum Akademisi Luar Biasa Jawa Barat Rianto.
Tri Rismaharini yang kini menjabat Menteri Sosial pun melahirkan harapan tersendiri bagi mereka. Risma diharapkan menunjukkan kemampuannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi tunanetra di Indonesia.
“Justru harapannya dengan menteri baru ini, dengan keibuannya, mudah-mudahan bisa memperbaiki pendidikan tunatera di Wyata Guna dan Indonesia pada umumnya,” ungkap Rianto.
Sementara dalam aksinya, para mahasiswa ini menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker. Aksi pun hanya digelar beberapa menit, setelah itu mereka membubarkan diri.
Saat ini, di Wyata Guna sendiri masih ada sembilan mahasiswa yang tinggal di asrama. Jumlah ini jauh menurun signifikan dibanding setahun lalu yang mencapai 32 orang. Mereka yang tersisa di asrama masih kuliah dan rata-rata baru akan lulus dalam 1-2 tahun ke depan.
Pihak Wyata Guna yang diminta tanggapan soal aksi tersebut tidak memberi tanggapan. (bud)





