Pandemi COVID-19 membuat pemerintah kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan gizi untuk masyarakat. Kondisi pandemi membuat produksi bahan pangan berkurang dan rantai logistik juga terganggu. Tidak terpenuhinya kebutuhan gizi membuat risiko terkena penyakit semakin tinggi. Salah satu penyakit populer akibat kekurangan zat gizi adalah anemia.?
Penyakit anemia atau kekurangan sel darah ini paling sering diderita oleh remaja dan ibu hamil. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) 2020 menunjukkan sebanyak 30 persen remaja usia 15-24 tahun mengalami anemia. Kondisi kurang darah juga diderita oleh sebanyak 48,9 persen ibu hamil. Penyakit ini bisa berdampak negatif bagi kesehatan penderita. Dari berkurangnya fokus, lemas, hingga pingsan atau tidak sadarkan diri.
Perlu upaya pencegahan agar penyakit anemia tidak banyak diderita oleh remaja. Pakar Gizi IPB University sekaligus Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema), Prof Dr Dodik Briawan, menerangkan bahwa penyakit anemia bisa dilawan. Salah satunya dengan memberikan tablet penambah darah. Solusi ini merupakan salah satu upaya yang optimal untuk mengurangi penderita anemia, khususnya pada remaja.
?Beberapa program bisa dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia baik secara global maupun lokal. Setidaknya empat hal utama yaitu konsumsi pangan dengan gizi yang cukup. Lalu ada pencegahan infeksi dan suplementasi besi. Selanjutnya adalah fortifikasi pangan atau penambahan zat gizi pada makanan,? ungkapnya dalam Webinar Series 30 Pergizi Pangan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2021.
Menurutnya selain program suplementasi zat gizi, pemerintah juga perlu fokus pada perubahan perilaku. Misalnya dengan melakukan program Tablet Tambah Darah (TTD) untuk siswa SMA yang diadakan oleh pemerintah. Inovasi ini perlu dikembangkan dengan pelibatan dari siswa itu sendiri.?
Di beberapa kabupaten, inovasi dilakukan dengan membuat Satuan Tugas (Satgas) dari siswa. Di Kabupaten Cimahi, Satgas ini dinamai ?Geulis Squad? atau di Banyuwangi dinamai ?Si Jari Merah? (Generasi Remaja Putri Merdeka dari Kurang Darah).
Lebih lanjut Prof Dodik berpendapat, program pemerintah dalam upaya mengurangi penyakit anemia masih belum optimal. Masalah utamanya yaitu koordinasi yang kurang antar lembaga pemerintahan di pusat dan daerah. Selanjutnya kemampuan manajemen tenaga kesehatan dan guru. Perlu dibuat koordinasi yang kuat, bukan hanya antar lembaga tapi dengan remaja itu sendiri. Potensi akses remaja terhadap internet yang tinggi bisa menjadi salah satu peluang koordinasi dengan menggunakan aplikasi.
?Ada potensi yang besar dimana kita bisa mengubah perilaku dengan media. Salah satu contoh aplikasinya adalah Springster yang saat ini digunakan secara global. Platform media seperti Youtube, Instagram dan lainnya bisa juga dioptimalkan. Apalagi di masa pandemi dimana pembelajaran dilakukan menggunakan internet,? tambah Prof Dodik.
Inovasi lain yang bisa dilakukan adalah fortifikasi pangan. Saat ini sudah banyak dikembangkan fortifikasi pada terigu dan beras. Penambahan zat besi ini juga dilakukan pada kedelai dan bahan pangan lainnya.
Masyarakat Indonesia makanannya cenderung tidak beragam dan banyak mengkonsumsi karbohidrat sebagai pangan pokok.
?Harapannya dengan fortisikasi, kebutuhan gizi terutama zat besi bisa terpenuhi ?dalam bahan makanan pokok,? imbuhnya.





