Berlibur menjadi salah satu upaya seseorang untuk melepaskan stres terutama setelah menghadapi rutinitas pekerjaan setiap harinya.
Namun liburan tetap bisa memberikan dampak buruk bahkan memperkuat tingkat stres. Kok bisa?
Psikoterapis asal New York City, Linda Walter, L.C.S.W., pernah menjelaskan kepada Psychology Today jika salah satu penyebabnya adalah kelelahan.
Seseorang yang berpergian selama liburan menghabiskan banyak energi dan menyebabkan kelelahan kemudian menghadapi rutinitas yang sama seperti sebelum liburan. Hal tersebut yang memicu tingkat stres lebih tinggi.
Selain itu, terlalu banyak makan selama liburan dan ketika liburan usai muncul rasa bersalah dalam diri. Hal lainnya adalah kemungkinan kecewa dengan liburan karena merasa bukan liburan seperti itu yang Anda harapkan dan kini semuanya berakhir.
Lisa mengatakan, tak sedikit dari masyarakat yang banyak berinteraksi dengan anggota keluarga selama liburan. Namun, terkadang merasa kecewa dengan interaksi itu, mungkin karena perilaku mereka dan lainnya.
“Ini dapat menyebabkan kesedihan. Di lain waktu, kita mungkin mengalami kegembiraan luar biasa karena bisa bersama anggota keluarga, kemudian sangat merindukan mereka ketika mereka pulang,” kata Linda.
Di sisi lain, life coach asal Inggris Carole Ann Rice mengatakan dalam laman Mirror bahwa merasa suasana hati memburuk usai liburan cukup banyak dialami orang-orang dan ini normal.
“Itu biasa. Jika Anda tidak puas dengan kehidupan, Anda berpikir: ‘Saya akan liburan yang menyenangkan dan itu akan memberi saya kesempatan untuk menilai kembali hubungan / pekerjaan / kesehatan / kehidupan saya.”Lalu Anda pulang, merasa luar biasa … dan kenyataan pahitnya adalah Anda belum mengubah apa-apa,” papar dia.





